bulan datang
dengan segenggam salam api perdamaian
dengan segembol tawa kemerdekaan
dengan secawan deru kecerahan
dengan aku menyalakan lilin merah di tangan
dengan mereka membawa bunga aneka warna
dengan Engkau mentertawakan kejahilan
bulan datang tepat di titik nol dunia
disini kuakhiri
disini kumulai
menghitung lafal kenestapaan
membaca abjad kealpaan
menulis jejak yang akan datang
jogjakarta, 01 januari 2007
hari ini kau sematkan di tanganku duri-duri mawar
setelah kemarin kau selipkan di jariku paku-paku kehidupan
seperti air
kau adalah titik hujan
sepeti batu
kau adalah ornamen kehidupan
seperti kembang
kau adalah teduh bakung
seperti api
kau adalah bara
seperti angin
kau berlalu
hari ini
makin aku rindu
jogjakarta, 18 desember 2006
NYANYIAN API
Gonjang ganjing bumiku dalam negeriku
Antah brantah tanahku dalam airku
Darahku mengalir
Bersama nafas beribu mayat
Uluhku menetes
Dan engkau berteriak dalam isak
"O, gusti!adakah sepetak ladang untukku?"
Purnama sebentar lagi tiba
Merahnya merekah di ufuk timur
Purnama keagungan
Purnama ke-asihan
Purnama kepiluan
Purnama masa
Purnama-Mu
Adalah nyanyian api
Yogyakarta, 23 januari 07
Keranda
Subuhun qudusun rabuna wa rabul malaikati wa ruh
Dalam kudus hatiku
Tiupan seruling Sulaiman
Mengajakku menari bersama kerinduan
Dalam pejam mataku
Sepasang mata menyala
Menatapku tak pejam
Dalam remang wujudku
Engkau hinggap di atas cendana
Ya Mala'ikatal Muqarabin
Rentangkan sayapmu
dan buai aku dalam temaram kedamaian
Dalam Subuh sebelum subuh
Dalam Kudus ketika kudus
Yogyakarta, 23 januari 07
KALANG KABUT
malam
hembuskan sunyi nafasmu
aku menunggu
kuserap lahap bersama gelap
kalap!
aku tak daya menyapa
bahkan nama tak mampu kubaca
cinta
menerpa bawa hampa
menyuluh peluh setubuh
yogya, maret 2005
SUCI ABADI
medan gelap merayap
bisikan rindu padaku
serayanya puting beliung bersenandung
senada cinta tanpa kata
dengungnya mbumbung terapung
menjadi cahaya bagi pecinta
cukup aku saja menanggung duka
katakan!
jangan membisu
keburu hatimu layu dan beku
sertakan nama permata jiwa disana
dari pusara aku jelma
syaratku satu
tanpa tumpu nafsu tentu
karena itu cintaku suci abadi
yogya, maret 2005
MATA
dimana ada taman kebahagiaan
padang rumput terbentang
air beriak dari celah cadas
aroma bunga lepas dari kelopak
dengan baju warna warni hiasi
sang dewi suguhkan anggur murni
untukku mabuk dalam pelukan
indahnya menambah gairah
matamu...
o, tidak!
(seketika aku tersentak)
mata itu
mata itu
kasihku
yogya, maret 2005
DONGA
Gelap pekat melekat ketat
Urat menjerat sedekat serat
Tiada cahaya kuterima
Semua tlah sirna bersamanya
Kepung kabung isi relung
Mengunyah mentah yang jawantah
Hanya mendung berundung kutampung
Hingga cerah tumpah melimpah
Tak apa aku merana di dunia
Karena ini hanya sementara
Usai badai mimpi kan kugapai
Tuhan gantikan bidadari di sisi
yogyakarta, 18 maret 2005
TOK2
Kali ini benar-benar aku datang padamu
Adakah hatimu terbuka untukku
Ketukan pertama untuk cinta
Kedua-ketiga adalah perwakilan rana
Bersama alam kusapa salam
Serangkai melati menjadi saksi
Tak hanya cinta kubawa
Rindu di tanganku
Resah adalah bayang langkah
Suguh aku sepenuh tubuh
Biar teguh perahuku berlabuh
Bersamamu kan kugayuh lautan keruh
Pasti hari terlalui
Tanpa sesal mengganjal
Yogyakarta, 20 maret 2005
LOVE SONG
Wahai malam keabadian
Datanglah!
Rengkuh tubuhku jenuh
Bergabung bersama Relung
Di tiap bilik kusediakan lirik cantik
Kidung cinta
Nyanyian lara
Serta lagu sendu rindu pun ada
Nyanyikan perlahan
Biasnya menjadi mata semesta
Perbait kan kubawa ke langit
Kugenggam menghadap Tuhan
Yogyakarta, 21 maret 2005
INSAN
Coba tunjukan padaku
Dimana aku saat ini
Resah gundah selalu penuhi hati
Wahai Tuhan penguasa alam
Pencipta segala yang ada
Aku memanggil-Mu dengan sisa serpihan jiwa
Membujuk
Merayu
Memohon
Dengan teriakan tanpa ucapan
Sungguh mulya apa yang Kau ciptakan dalam dada
Segumpal darah berubah segala rasa
Coba jawab barang seucap
Apa isi dalam ke-dalam-an wujudku
Mengapa kau taruh-setubuh bersimpuh
Bisikan padaku jika Engkau malu
Tali apakah yang dapat mengendalikan
Yogyakarta, 25 September 2004
RENUNGAN MALAM
Hening malam kian tenang
Sepi, tenpa desir angin saling berbisik
Sunyi, Bintang dan rembulan terlelap di balik jubah kegelapan
Hanya aku
Tenggelam dalam lautan hitam
Kupeluk remang karang
Kusentuh gaungan bayang
Aku hanyut, larut menyatu
Dalam ingatan dan kenangan
Dalam masa yang akan datang
Petir menyambar beribu mata menatap nanar
Melintas seulas senyum disela kerling embun
Dialah yang kutunggu
Engkau...
Serupa bayang di balik titik lembut sebuah warna
Aku...
Katakan padaku!
Yogyakarta, 28 September 2004
PENDOSA
Sengaja ku undang kalian
Hai para rerewang
Hai roh sekahyangan
Tak lain para lelembut kusebut
Tak lupa para malaikat tuan terhormat
Mengajakmu bersuka ria
Berpestafora bersama
Disini
Di tempat ini
Tempat pendosa ada
Hai Malik, hentikan engkau hardik
Lepaskan fir'aun
bebaskan salabah
Serta lacur yang hancur
Bebaskan semua seisinya
Biar kukenal satu dua tiga dari mereka
karena nanti aku kan bersama
Hai Ridwan, penjaga kebahagiaan
Kupinjam seribu bidadari padamu
Untuk menari dan temaniku tidur semalam hayalan
Biar lengkap sudah dosa
Hai Rakb pula Atid
Bukakan lembaran baru untukku
Catat setiap detik, detak, nafasku
Yogyakarta, 11 Januari 2005
"Jeck"
Sahib tak pernah rahib
Walau dalam mata kini tak ada
Dalam jiwa takkan sirna
Semua terpahat melekat
Di tubuh kian tumbuh
Bersama mancari hari nanti
Biar pasti esok nan elok
Tanpa cerai lagi berai
Bahagia kan tergapai
Pasti!
Mari!
Yogyakarta, 5 Januari 2005
NOSTALGI
Riuh gaduh sela tawa
Pecahlah gundah!
Tumpahlah air duka
Memercik berhambur ke tanah dan batu-batu
Selintas membekas garis hitam di wajah rembulan
Kini kau tampak begitu merona
Awan dan anging menghapus pelan
Kau kembali sempurna
Matamu sejernih bayang yang kutangkap di kaca jendela
Hidungmu sembunyikan nafas cendana dan
Bibir dan gigimu adalah kesatuan yang serasi
Pipimu memerah ketika dedaun gemerisik tentang itu
Itu adalah dirimu
Sang kasih yang hanyut dalam nostalgia
Musik menyambut girang
Dituangnya anggur merah dalam gelas
Tak ada selain engkau kini
Yogya, November 2004
DESEMBERKU
Biru kelabu desemberku
Rintik hujan tak kunjung reda
Awan hitam berlari susul-menyusul
Gemuruh petir turun temurun
Kian basah aku dengan cintamu
Duduk bersimpuh menggigil rindu
Di sudut remang lilin obituary
Andai engkau berjalan tertatih dan sejajar
Mengerti abjad per-abjad raung hati
Andai engkau menulis lain perintah Ilahi
Dan berpaling sebelum pergi
Andai...
Tinggallah kenangan dan ingatan
Kau dan aku saling membisu
Terpaut ruang dan waktu
Selamat jalan cintaku
Yogya, Desember 2004
PUJA SAHYA
puja sahya kalikanji
puja sahya kahurip
puja sahya...
bumi hanguskan tanah gelisah
luluh lantakkan laut api
puja sahya...
jadilah angin
kepakkan pada sayap hatiku
puja sahya...
jadilah bulan
tatapkan pada mata asmara
puja sahya...
jadilah awan
payung segala kerinduan
puja puji pasti abadi
yogya, 2005
SEBUAH PENANTIAN
tak dapat lagi aku berpaling
mentari menyingkap gaun malam
merebak kehangatan menelusup pelan
anggrek jingga tegar meretas embun
siul pipit menyanyikan lagu sulaiman
tak dapat lagi aku berpaling
seutuhnya pagi adalah wujud persatuan
gairah, resah dan gundah menjelajah
menepi usai fajar menyingsing
tak dapat lagi aku berpaling
kian hanyut di laut rindu
tenggelam dalam samudera cinta
tak dapat lagi aku berpaling
dari matamu
dari bisikmu
tak dapat lagi aku berpaling
dari bayangmu
kutunggu di sunyi mimpi
senyap siam padam rembulan
erang damar siup kabur
tenggelamkan matamu di dadaku
yogya, maret 2005
SANG BIJAK I
dunia ini berputar kencang kawan
mungkin esok kan sedikit menggoncangkan
tak ayal berbalik dan menjatuhkan
maka...
hati-hati engkau duduk
tapi...
bagaimana kau bisa berpegang erat
dalam genggam kau cengkeram tanah dan air
di kanan dan kiri
sekarang bagaimana menjadi sang bijak
regangkan kedua tangan
lihatlah...
mereka menganga
menanti janji atas nama ilahi
merekalah yang suci
merekalah yang menjadi saksi
biarkan mereka bicara
dengarkan...
oh, betapa menyedihkan kawan
di tanah yang melimpah
dan air yang membanjir
sejuta nafas terhempas menahan lapar dahaga
sudah lupakan mimpi megah
sekarang...
bergegaslah!
saatnya kau menjadi sang bijak
Yogya, desember 2004
SANG BIJAK II
dulu...
sepuluh atau sebelas tahun yang lalu
ketika ketololan adalah ajang
buah-buahan segar disajikan
sayur-mayur lauk-pauk siap santap
kini...
si domba adalah singa
srigala hanya kecoak
mestinya kau sajikan untukku buah dan madu
bukan anggur atau obat tidur
mestinya!!!
biar aku tahu perilakumu
kau berikan aku buah
ku kembalikan berupa manisan
layaknya seorang kawan
tak harus berjabat tangan
kemudian...
inilah sebuah harapan
Yogya, remang-remang
MATAHARI DI PERBATASAN HARI
hari yang lalu telah pergi
jejak-jejak masih tampak
tangan dan kaki penuh berisi
tinggallah kenangan
ketika waktu kosong
angin berbisik di sudut-sudut hati
melayarlah, melajulah
kan ku bawa kau ke dermaga sesungguhnya
ku rangkai matahari dari berbagai penjuru
yang itu takkan pernah bertemu
ku sejajarkan segala keindahan
untukmu
ku hamparkan di perbatasan hari
esok kan ku jumpai kau dalam kedewasaan
Yogya-Purwokerto
perlimasembilan
Selamat pagi jogjakarta
Seraya...
Ku angkat tanganku menengadahmu
Cukup enam ribu jiwa tenggelam dalam isak tangis
Enam ribu jiwa menggelepar sisa-sisa
Enam ribu jiwa mengapung di sudut mata
Cukup sudah tampung kala getih
Mereka yang hilang
Biar tenang bersama bintang yang kau tabur semalam
Tak ada gundah-gulana mengembara alam maya
Jika kau nyanyikan dalam hiruk-pikuk haribaan
Derap langkah tertatih pedih
Meratap pada sayap-sayap el-ameen
Bentangnya menyelubungi kepala-kepala duka
Dari cedar Zabaneyah menangkup hangat perdani
Biarkan tenang bersama hasrat tangan
Meraih bait-bait lafal kehidupan
Yogya-ambang
ZALZALAH
Tak akan ada kisah duka
Jika tak Kau torehkan luka pada perih nadiku
Tak akan ada kisah rana
Jika tak Kau kibarkan sarana kaana
Tak akan ada kisah
Kawan...
Dengarkan kisah-Ku
Idzaa zul zilatil ardlu zilzalaha
Wa akhrajatil ardlu asqalaha
Wa qaala alinsanu maalaha
Yauma idzin tuhaditsu akhbaraha...
kemudian apa yang kehendaki
itulah yang terjadi
Yogya, akhir Mei
SELAMAT JALAN
Angin menjerit kencang di rerumputan
Bulan sayu sembunyi di ranting-ranting
Sementara hari tinggallah bayang
Bersama hilang wajah pujaan
Derit dinding membeku
Sayup terdengar lagu rindu
Desah langkah mengais sisa mimpi
Yang hilang biarkan mati
Yang telah pergi
Selamat jalan…
Di rerumputan kutinggalkan berkas hayalan
Bersama angin kulayangkan doa-doa
Kutabur bintang di jelaga hati
Selamat jalan…
Yogya, akhir maret
TASBIH MALAM
Kupenuhi panggilanmu malam ini
Aku datang dengan sisa jiwa tecabik dosa
Sekitar sisa waktu usai isya
Ketika burung hantu memekik di dahan cemara
Aku datang padamu…
Ku angkat tangan setinggi bahu
Mengetuk salam di pintumu
Adakah kau di balik warna hitam itu Tuan?
Kupenuhi panggilanmu malam ini
Malam sunyi sendiri di perbatasan cakrawala
Ketika manusia diam dalam buaian mimpi-mimpi
Atau menangis untuk hari yang terlalui
Aku datang padamu…
Inni dzambun
Innaka ‘afuwwun
Hingga titik air lepas
Mengelupas tabir masa
Kupenuhi panggilanmu
Untuk saat ini
Kau buka jendela masa
Kau nyalakan lentera di samping kaca
Dibalik kasa-kasa
Terlalu agung untuk kufikirkan
Yogyakarta, 25 September 2007
HANYA KITA
Aku masih ingat!
Kau tuan berkacamata hitam perak
Kaos compang-camping mengahadap terbenam matahari
Blue jean biru pucat berantai-rantai
Hampir kau membunuhku, tuan!
Bukankah pisau itu yang kau asah semalam?
Di pelataran pemujaan
Di semak cemara yang runtuh
Digoyang siul bisumu?
Hampir kau melihatku, tuan!
Tak ada batas pandang
Hanya kita berdua
Beradu sengit sama lain
Sayang kau buta dan tuli
Tuan!
Yogya, 1 Desember 2007
SENANDUNG SUBUH
Yaa ibnati iblis
Idzhab minni
Laa tatruk nuqthat al-aswad
Laa taraani li inkari
Ni’matan lailan
Nyanyian matahari untuk embun pagi
Bersiul lembut manampar kabut menginjak gelap
Untuk bunga bemekaran
Untuk rumput di pelataran
Untuk burung di dedahan
Wahai yang memimpin gelap dan terang
Angkat jubah hitam yang hampir di wajahku
Biarkan aku melihat jauh sebuah perjalanan
Ajarkan membaca simbol bumi dan langit
Yogyakarta, 18 februri 2007
YANG HILANG
Di lembah dan bukit
beranak pinak seribu satu macam alasan
untuk mencarimu
Di lembah dan bukit
tumbuh besar bersama rumput dan alang
kala hujan tinggal rintik basah
daun kering gelisah
Matahari tenggelam tidak pada waktunya
Di lembah dan bukit
tidak ada suara
keculi gema gaung raung
tentang kau!
Yang ku ingat hanya nama
Adakah kau di sisi rimbun itu
Di tengah gelap menelan suaraku
Yogyakarta, 12 desember 2007
KUPU KERTAS
Jika datang hari
Dimana manusia memberi arti
pada dirinya sendiri
Dengan tangan menengadah ke kiblat
arah matahari tenggelam
Matanya nanar menatap jauh
Hampir di awan mega
Semu
Maya
Tiada bahkan
Sanggupkah kau hadirkan kenikmatan
Di ujung bibir dan lidah
Yang gemeretakan
Di sela selangkangan
Yang gemetaran
Di tengah nafsu
Yang gentar
Sedang kau tak lagi mampu memberi kebaikan
pada wajahmu yang lunglai
Terpekur di tiang senggama
Antara ketakutan dan kegetiran
Terbanglah bersama angin yang kuhempas semalam
Nafas kerinduan dan ketenangan
Semua berakhir saat lilin kau matikan
Yogya, 07/03/08
TARAKAMA
Sakura pun gugur juga
Lihat merah mudanya
Memilukan kenangan yang padam
Pipit dan jalak hitam mengadu sayap
di atas tangkar rumbai-rumbai
Dan matahari hitam
pekat jalak hitam menumbang
Ah…wanita
Kau datang dan pergi
Datang-pergi
Datang-pergi
Datang dalam kenang
Pergi dari impi
Wanitaku
Yogyakarta, 5 Januari 2008
