Sanggar Nuun akan menyelenggarakan Study Pentas untuk anggota baru angk-VIII pada tanggal 01 Maret 2008 dengan naskah lakon Sebuah Kesaksian, adaptasi cerpen "kang Sarpin minta dikebiri" karya Ahmad Tohari oleh saudara kasepuhan Maz Fanz.
Naskah diusung dari perhelatan yang tak terduga-kecil hampir tak bermakna. Tapi itulah kehidupan…
Tentang baik buruknya perbuatanyang tergantung kepada niat yang ditekadkan.Karena terkadang, yang terjadi akan berbeda dengan yang diinginkan. Namun sudah menjadi suratan, jika manusiamelihat dengan mata,mendengar dengan telinga,berbicara dengan mulut.
Siapakah Dia?
Orang yang tahu kalau dirinya gemblung dan tidak waras, kemudian sadar dengan kekeliruannya sehingga mau bertobat dan bercita-cita jadi wong bener, itulah orang baik. Dan Kang Sarpin telah membuktikan itu. Meski akhirnya, ia harus meninggal sebelum melaksanakan cita-citanya…
Ada Ki Demung…
Ada Sarpin…
Ada Tinah…
Ada Dalban…
Ada si-Sri…
Ada Modin…
Ada Mijan…
Ada Sarjo…
Ada Wagiman…
Ada Tukiman…
Siapakah mereka dan apa yang akan tertorehkan dalam jejak kehidupan…
Jumat, 15 Februari 2008
SARPIN MINTA DIKEBIRI
“KANG SARPIN MINTA DIKEBIRI”cerpen karya Ahmad TohariKANG Sarpin meninggal karena kecelakaan lalu lintas pukul enam tadi pagi. Ia sedang dalam perjalanan ke pasar naik sepeda dengan beban sekuintal beras melintang pada bagasi. Para saksi mengatakan, ketika naik dan hendak mulai mengayuh, Kang Sarpin kehilangan keseimbangan. Sepedanya oleng dan sebuah mobil barang menyambarnya dari belakang. Lelaki usia lima puluhan itu terpelanting, kemudian jatuh ke badan jalan. Kepala Kang Sarpin luka parah, dan ia tewas seketika. Satu lagi penjual beras bersepeda mati menyusul beberapa teman yang lebih dulu meninggal dengan cara sama.Beban sekarung beras pada begasi dan terkadang sekarung kecil lainnya pada batangan adalah risiko besar bagi setiap penjual beras bersepeda. Tetapi mereka tak jera. Setiap hari mereka membeli padi dari petani, kemudian mengolahnya di kilang lalu menjual berasnya ke pasar. Mereka tak peduli sekian teman telah meninggal menjadi bea jalan raya yang kian sibuk dan kian sering minta tumbal nyawa.Berita tentang kematian itu sampai kepada saya lewat Dalban, ipar Kang Sarpan sendiri. Ketika menyampaikan kabar itu Dalban tampak biasa saja. Wajahnya tetap jernih. Kata-katanya ringan. Mulutnya malah cengar-cengir. Entahlah, kematian Kang Sarpin tampaknya tidak menjadi kabar duka. Di rumah Kang Sarpin saya telah melihat banyak orang berkumpul. Jenazah sudah terbungkus kafan dan terbujur dalam keranda. Tetapi tak terasa suasana duka cita. Wajah para pelayat cair-cair saja. Mereka duduk santai dan bercakap sambil merokok seperti dalam kondangan atau kenduri. Ada juga yang bergurau dan tertawa. Asap mengambang di mana-mana melayang seperti kabut pagi. Ah, saya harus bilang apa. Di rumah Kang Sarpin pagi itu memang tak ada duka cita atau bela sungkawa. Kalaulah ada seorang bemata sembab karena habis menangis, dialah istri Kang Sarpin. Tampaknya istri Kang Sarpin berduka seorang diri. Setelah menaruh uang takziyah di kotak amal saya mencari kursi yang masih kosong. Sial. Satu-satunya kursi yang tersisa berada tepat di sebelah Dalban. Ipar Kang Sarpin masih ngoceh tentang si mati. Dan saya tak mengerti mengapa omongan si Dalban seperti menyihir para pelayat. Orang-orang tampak tekun menikmati cerita tentang almarhum dari mulut nyinyir itu. “Ya, wong gemblung itu sudah meninggal,” kata Dalban dengan enak. Wajahnya tampak tanpa beban. “Bagaimana aku tak menyebut iparku wong gemblung. Coba dengar. Suatu ketika di kilang padi, orang-orang menantang Sarpin: bila benar jantan maka dengan upah lima ribu rupiah dia harus berani membuka celana di depan orang banyak. Mau tahu tanggapan Sarpin? Tanpa piker panjang Sarpin menerima tantangan itu. Ia menelanjangi dirinya bulat-bulat di depan para penantang. Lalu enak saja, dengan kelamin berayun-ayun, dia berjalan berkeliling sambil meminta upah yang dijanjikan.” Cerita Dalban terputus oleh gelak tawa orang-orang. Dan Dalban makin bersemangat. “Ya, orang-orang hanya nyengir dan mengaku kalah. Malu dan sebal. Sialnya mereka harus mengumpulkan uang lima ribu. Tetapi Yu Cablek, penjual pecel di kilang padi yang melihat kegilaan Sarpan berlari sambil berteriak, ‘Sarpin gemblung, dasar wong gemblong!’’’ Orang-orang tertawa lagi. Dan jenazah Kang Sarpin terbujur diam dalam keranda hanya beberapa langkah dari mereka. Saya mengerutkan alis. Ah, sebenarnya orang sekampung, lelaki dan perempuan, sudah tahu siapa dan bagaimana Kang Sarpin. Dia memang lain. Dia tidak hanya mau menelanjangi diri di depan orang banyak. Ada lagi tabiatnya yang sering membuat orang sekampung mengerutkan alis karena tak habis pikir. Kang Sarpin sangat doyan main perempuan dan tabiat itu tidak ditutupi-tutupinya. Dia dengan mudah mengaku sudah meniduri sekian puluh perempuan. “Saya selalu tidak tahan bila hasrat birahi tiba-tiba bergolak,” kata Kang Sarpin suatu saat. “Tetapi Kang Sarpin masih ada baiknya juga,” cerita Dalban lagi. “Meski gemblung dia berpantangan meniduri perempuan bersuami. Kalau soal janda sih, jangan ditanya; yang tua pun dia mau. Dan hebatnya lagi dia juga tak pernah melupakan jatah bagi istrinys, jatah lahir maupun batin.”*** DALBAN terus ngoceh dan orang-orang tetap setia mendngar dan menikmati ceritanya. Saya juga ikut mengangguk-angguk. Tetapi saya juga merenung. Sebab tadi malam, kira-kira sepuluh jam sebelum kematiannya Kang Sarpin muncul di rumah saya. Di bawah lampu yang tak begitu terang wajahnya kelihatan berat. Ketika saya Tanya maksud kedatangannya, Kang Sarpin tak segera membuka mulut. Pertanyaan saya malah membuatnya gelisah. Namun lama-kelamaan mulutnya terbuka juga. Ketika mulai berbicara ucapannya terdengar kurang jelas. “Mas, saya sering bingung. Sebaiknya saya harus bagaimana?” “Maksud Kang Sarpin?” “Ah, Mas kan tahu saya orang begini, orang jelek. Wong gemblung. Doyan perempuan. Saya mengerti sebenarnya semua orang tak suka kepada saya. Sudah lama saya merasa orang sekampung akan lebih senang bila saya tidak ada. Saya adalah aib di kampung ini.” “Kang, semua orang sudah tahu siapa kamu,” kata saya sambil tertawa. “Dan ternyata tak seorang pun mengusikmu. Lalu mengapa kamu pusing?” “Tetapi saya merasa menjadi kelilip orang sekampung. Ah, masa-iya saya akan terus begini. Saya ingin berhenti menjadi aib kampung ini. Lagi pula sebentar lagi saya punya cucu. Saya sudah malu jadi wong gemblung. Saya sudah ingin jadi wong bener, orang baik-baik. Tetapi bagaimana?” “Yang begitu kok tanya saya? Mau jadi orang baik-baik, semuanya tergantung Kang Sarpin sendiri, kan? Kalau mau baik, jadilah baik. Kalau mau tetap gemblung, ya terserah.” “Tidak! Saya ingin berhenti gemblung. Sialnya, kok ternyata tidak mudah. Betul. Mengubah tabiat ternyata tidak mudah. Dan inilah persoalannya mengapa saya datang ke mari.” Saya pandangi wajah Kang Sarpin. Matanya menyorotkan keinginan yang sangat serius. Anehnya, saya gagal menahan senyum. “Bila Kang Sarpin bersungguh-sungguh ingin jadi wong bener, kenapa tidak bisa? Seperti saya bilang tadi, masalahnya tergantung kamu, bukan?” “Sulit Mas,” potong Sarpin dengan mata berkilat-kilat. “Saya sungguh tak bisa!” “Kok? Tidak bisa atau tak mau?” “Tak bisa.” Kang Sarpin menunduk dengan menggeleng sedih. “Lho, kenapa?” “Ah, Mas tidak tahu apa yang terjadi dalam diri saya. Burung saya lho, Mas! Burung saya; betapapun saya ingin berhenti main perempuan, dia tidak bisa diatur. Dia amat bandel. Bila sedang punya mau, burung sama sekali tak bisa dicegah. Pokoknya dia harus dituruti, tak kapan, tak di mana. Sungguh Mas, burung saya sangat keras kepala sehingga saya selalu dibuatnya jengkel. Dan bila sudah demikian saya tak bisa berbuat lain kecuali menuruti apa maunya. “Sekarang, Mas, saya datang kemari untuk minta bantuan. Tolong. Saya suka rela diapakan saja asal saya bisa jadi wong bener. Saya benar-benar ingin berhenti jadi wong gemblung.” Terasa pandangan Kang Sarpin menusuk mata saya. Saya tahu dia sungguh-sungguh menunggu jawaban. Sialnya, lagi-lagi saya gagal menahan senyum. Kang Sarpin tersinggung. “Mas, mungkin saya harus dikebiri.” Saya terkejut. Dan Kang Sarpin bicara dengan mata terus menatap saya. “Ya. Saya rasa satu-satunya cara untuk menghentikan kegemblungan saya adalah kebiri. Ah, burung saya yang kurang ajar itu memang harus dikebiri. Sekarang Mas, tolong kasih tahu dokter mana yang kiranya mau mengebiri saya. Saya tidak main-main. Betul Mas, saya tidak main-main!” Tatapan Kang Sarpin makin terasa menusuk-nusuk mata saya. Wajahnya keras. Dan saya hanya bisa menarik napas panjang. “Entah di tempat lain Kang, tetapi di sini saya belum pernah ada orang dikebiri. Keinginanmu sangat ganjil, Kang.” “Bila tak ada dokter mau mengebiri, saya akan pergi kepada orang lain. Saya tahu di kampung sebelah ada penyabung yang pandai mengebiri ayam aduannya. Saya kira, sebaiknya saya pergi ke sana. Bila penyabung itu bisa mengebiri ayam, maka dia pun harus bisa mengebiri saya. Ya. Besuk, sehabis menjual beras ke pasar ….” “Jangan Kang,” potong saya. Tatapan Kang Sarpin kembali menusuk mata saya. “Kamu jangan pergi ke tukang sabung ayam. Dokter memang tidak mau mengebiri kamu. Tetapi saya kira dia punya cara lain untuk menolong kamu. Besuk Kang, kamu saya temani pergi ke dokter.” Wajah Kang Sarpin perlahan mengendur. Pundaknya turun dan napasnya lepas seperti orang baru menurunkan beban berat. Setelah menyalakan rokok Kang Sarpin menyandarkan ke belakang. Tak lama kemudian, setelah minta pengukuhan janji saya untuk mengantarnya ke dokter, Kang Sarpin minta diri. Saya mengantarnya sampai ke pintu. Ketika saya berbalik tiba-tiba sebuah pertanyaan muncul di kepala; apakah Kang Sarpin adalah lelaki yang disebut cucuk senthe? Di kampung ini cucuk senthe adalah sebutan bagi lelaki dengan dorongan birahi meledak-ledak dan liar sehingga yang bersangkutan pun tak bisa mengendalikan diri. Entahlah.*** SAYA tersadar ketika semua orang bangkit dari tempat duduk masing-masing. Rupanya modin yang akan memimpin upacara pelepasan jenazah sudah datang. Bahkan keranda sudah diusung oleh empat lelaki yang berdiri di tengah halaman. Kini suasana hening. Dalban yang sejak pagi terus ngoceh, juga diam. Modin mengawali acara dengan memintakan maaf bagi almarhum kepada semua yang hadir. Modin juga menganjurkan kepada siapa saja yang punya utang piutang dengan Kang Sarpin untuk segera menyelesaikannya dengan para ahli waris. Sebelum doa dibacakan, modin tidak melupakan tradisi kampung kami; meminta semua orang memberi kesaksian tentang jenazah yang hendak dikubur. “Saudara-saudara, saya meminta kalian bersaksi apakah yang hendak kita kubur ini jenazah orang baik-baik?” Hening. Orang-orang saling berpandangan dengan sudut mata. Saya melihat Dalban menyikut lelaki di sebelah. “Bagaimana? Sarpin itu tukang main perempuan. Apa harus kita katakana dia orang baik-baik?” Masih hening. Saya merasa semua orang menanggung beban rasa pakewuh, serba salah. Maka modin mengulang pertanyaannya, apakah yang hendak dimakamkan adalah jenazah orang baik-baik. Sepi. Anehnya tiba-tiba saya merasa mulut saya bergerak. “Baik!” Suara saya yang keluar serta merta bergema dalam kelengangan. Saya melihat semua orang juga modin, tertegun lalu menatap saya. Entahlah, saat itu saya bisa menyambut tatapan mereka dengan senyum. Keranda bergerak bersama langkah empat lelaki yang memikulnya. Bersama orang banyak yang berjalan sambil bergurau, saya ikut mengantar Kang Sarpin ke kuburan. Saya tak menyesal dengan persaksian saya. Di mata saya seorang lelaki yang di ujung hidupnya sempat bercita-cita jadi wong bener adalah orang baik. Entahlah bagi orang lain, entah pula bagi Tuhan.
SEBUAH KESAKSIAN
Sebuah Naskah Lakon
Transformasi Cerpen KANG SARPIN MINTA DIKEBIRI
karya Ahmad Tohari
SEBUAH KESAKSIAN
Oleh : Mazfans
JOGJAKARTA
Oktober 2005
SEBUAH KESAKSIAN
Tentang baik buruknya perbuatan
yang tergantung kepada niat yang ditekadkan.
Karena terkadang, yang terjadi akan berbeda dengan yang diinginkan. Namun sudah menjadi suratan, jika manusia
melihat dengan mata,
mendengar dengan telinga,
berbicara dengan mulut.
L A K O N :
1. KI DEMUNG
Lelaki Usia paruh baya. Sosok yang nampak teduh dan bersahaja. Pembawaannya terkesan kalem dan tenang.
2. KANG SARPIN
Lelaki usia 30-an. Lugu, bahkan terkesan gemblung dan culun namun tetap memegang teguh prinsip dan keinginannya.
3. YU SARPIN
Istri Kang Sarpin. Seorang istri yang setia dan menaruh hormat kepada suami. Seperti kebanyakan perempuan jawa yang –kepada suaminya– memiliki prinsip surgo manut neroko katut.
4. DALBAN
Kakak Yu Sarpin (Kakak ipar Kang Sarpin). Tubuhnya yang besar –atau lebih tepatnya, gendut– cocok dengan karakternya yang sok dan kemaki. Namun, pepatah mengatakan tong kosong berbunyi nyaring.
5. FIGURANTS
Warga Desa, Perempuan, Modin
SETTING : DEPAN rUMAH KI DEMUNG
KI demung DUDUK DI SEBUAH KURSI BAMBU. SEGELAS KOPI DAN BEBERAPA MAKANAN KECIL DI ATAS PIRING BERADA DI SAMPINGNYA. ADA SEBATANG ROKOK TERSELIP DI ANTARA JARI-JEMARINYA. WAJAHNYA NAMPAK TEDUH BERSAHAJA.
Tiba-tiba Yu Sarpin mendatangi ki demung dengan tergopoh..
1. Yu Sarpin :
Katiwasan Ki.. katiwasan…
2. Ki Demung :
Ada apa, yu?
3. Yu Sarpin :
Kali ini suamiku benar-benar keterlaluan...
4. Ki Demung :
Main perempuan lagi?
5. Yu sarpin :
Kalau masalah itu tidak usah diomongkan lagi, Ki. Siapa yang tidak tahu watak Kang Sarpin kalau sudah bertemu dengan perempuan. Apalagi masih muda dan cantik.
6. Ki Demung :
Terus? Apa yang seperti itu juga tidak keterlaluan?
7. Yu sarpin :
Bukan begitu maksud saya Ki. Saya sendiri juga tidak habis pikir dengan sifat Kang Sarpin itu.
8. Ki Demung :
Permasalahannya tidak akan selesai jika hanya dipikir yu...
9. Yu Sarpin :
Lalu apa yang harus saya lakukan, Ki. Sebagai seorang istri, saya juga sudah mencoba untuk istri yang baik. Tugas dan kewajiban istri sudah saya . Baik urusan dapur, sumur dan kasur. Tapi...
10. Ki Demung :
Ya... kalau kamu merasa sudah memenuhi tugas dan kewajibanmu sebagai istri, coba kamu perhatikan suamimu.
11. Yu Sarpin :
Apa yang selama ini saya lakukan di dapur, di sumur dan di kasur itu tidak cukup untuk kang Sarpin
12. Ki Demung :
Mungkin saja... karena masing-masing orang kan tidak sama dalam soal cukup dan tidak cukup. Cukup bagi kamu, mungkin belum cukup bagi suamimu.
13. Yu Sarpin :
Aku mesti bagaimana lagi Ki? Aku capek mikirinnya.
14. Ki Demung :
Ya, sudah... nanti pasti juga ada jalan keluarnya.
15. Yu Sarpin :
Nanti...??! Nanti itu kapan, Ki? Saya sudah menganggap nanti itu tidak ada. Tidak akan habis...
16. Ki Demung :
Kau sudah mulai seperti suamimu saja.
17. Yu Sarpin :
Apa maksudmu, Ki??! Apa kau menganggap aku seorang istri yang tidak setia??! Perempuan yang doyan laki-laki??!
18. Ki Demung :
Bukan itu maksudku…
19. Yu Sarpin :
Lalu apa??! Aku berani bersumpah Ki, laki-laki yang pernah tidur denganku hanya Kang Sarpin, suamiku. Tujuh turunan aku berani bersumpah untuk itu!
20. Ki Demung :
Aku percaya… bahkan di desa ini, siapa yang berani meragukan kesetiaanmu sebagai seorang istri yang baik dan setia?
21. Yu Sarpin :
Kalau begitu, apa maksudmu menyamakan aku dengan suamiku.
22. Ki Demung :
Cara bicaramu itu…
23. Yu Sarpin :
Aku tidak peduli dengan itu. Aku hanya kesal dengan ulah Kang Sarpin itu. Apalagi yang sekarang sedang ia lakukan di pasar. Keterlaluan Ki … keterlaluan. Aku malu, Ki.
24. Ki Demung :
Memang apa yang sekarang dilakukan Kang Sarpin di pasar? Bukankah setiap hari ia juga ke pasar. Itu juga karena tugasnya sebagai seorang suami. Sebagai seorang kepala keluarga yang mempunyai kewajiban untuk menafkahi keluarga. Apa itu salah?
25. Yu Sarpin :
Aduuhh… Ki... Apa sampeyan tidak mendengar apa yang sekarang terjadi di pasar.
26. Ki Demung :
Sedari tadi aku hanya duduk di sini. Belum ada seorangpun yang lewat sini.
Tiba-tiba dalban dan beberapa orang warga desa berjalan melintasi tempat itu
27. warga I :
Bagaimana kang? Apa yang seperti itu tidak keterlaluan?
28. Dalban :
Nah... itu dia istrinya.
(Kepada Yu Sarpin) Lihat suamimu itu. Lihat orang gemblung itu...
29. Ki Demung :
Gemblung bagaimana, kang?
30. Dalban :
Ya... bagaimana aku tidak menyebut iparku itu wong gemblung. Coba Ki Demung bayangkan saja...
(Diam sejenak dan memperhatikan Yu Sarpin) Apa dia belum cerita tentang apa yang dilakukan suaminya di pasar?
31. Yu Sarpin :
Sudahlah, kang. Peristiwa memalukan itu tidak usah diceritakan...!
32. Dalban :
Jika tidak diceritakan sekarang, semua orang di desa ini juga akan tahu apa yang orang gemblung itu lakukan demi lima puluh ribu rupiah. Jadi.... ya sama saja. Diceritakan atau tidak, semua orang akan tahu.
33. Ki Demung :
Memang apa yang dilakukan Kang Sarpin untuk uang sebesar itu?
34. Dalban :
Ya... ya... ya... aku akan menceritakannya kepadamu. Tapi kau harus janji?
35. Ki Demung :
Apa??
36. Dalban :
Kau tidak akan tertawa saat mendengarkan ceritaku. Bagaimana?
37. Ki Demung :
Begini saja. Kalau lucu, aku akan tertawa. Kalau sedih aku akan mengangis. Dan kalau menyenangkan, aku akan ikut bahagia. Bagaimana?
38. Dalban :
Haa...haa...haa... Kau tidak kasihan melihat adikku??
39. Ki Demung :
Sudahlah... sekarang kau ceritakan saja kepadaku.
40. Dalban :
Waah... kau sudah tidak sabaran lagi yah? Baik... baik... aku akan ceritakan kepadamu. Begini... saat pasar mulai ramai, beberapa orang desa sini berkumpul di depan keranjang dagangan Kang Sarpin. Biasa.... mereka hendak membeli beberapa kebutuhan untuk hari itu. Lalu...
41. Yu Sarpin :
Sudah... sudah... silahkan kalau kalian mau membicarakan suamiku. Aku akan pulang. Masak!!
YU Sarpin keluar dari panggung. Semua orang memandang kepergiannya. Nampak beberapa orang cengar-cengir sambil berbisik-bisik. Beberapa orang lainnya melihat tanpa ekspresi. Ada juga yang termangu.
42. Dalban :
Aku lanjutkan lagi, ya.... Nah ketika mereka tengah menawar dagangan Kang sarpin, tiba-tiba ada yang berani menawar tinggi. Kang Sarpin nampak senang dan mau-mau saja. Apalagi yang mau menawar tidak hanya satu orang. Hampir semuanya berani menawar tinggi. Tapi...
43. Ki Demung :
Sebentar... sebentar... Lalu apa hubungannya kau menyebut iparmu itu dengan wong gemblung?
44. Dalban :
Bagaimana aku tidak menyebut iparku itu wong gemblung.
Coba dengar, orang-orang yang menawar tinggi itu mengajukan sarat. Mereka menantang iparku itu, kalau ia benar-benar jantan, mereka berani membeli dagangan yang harganya sepuluh ribu dengan harga lima puluh ribu.
45. Ki Demung :
Apa saratnya?
46. Dalban :
Si Sarpin harus berani membuka celana dan telanjang di depan banyak orang.
47. Ki Demung :
Lalu?
48. Dalban :
Haa... haa... haa.... Hey kawan-kawan, lalu apa yang terjadi? Beritahu dia! Ayo beritahu dia... Kalian ceritakan saja apa yang dilakukan wong gemblung itu!
49. Warga II :
Tanpa pikir panjang, eee.... Kang Sarpin menerima tantangan itu.
50. Warga III :
Ya... Kang sarpin langsung menelanjangi dirinya. Lalu dengan enaknya dia berjalan mondar-mandir dengan bertelanjang bulat, sambil menagih uang lima puluh ribu itu.
51. Warga II :
Dan akhirnya, orang-orang yang tadi menantangnya hanya nyengir dan malu sambil membayar janjinya.
52. Dalban :
Bagaimana Ki? Apa itu bukan wong gemblung namanya?
53. Warga :
Iya Ki... wong gemblung. Haa... haa... haa...
Gemblung... gemblung... Haa... haa... haa...
54. Dalban :
Sudah.... sudah... ayo kita pulang saja.... Bisa-bisa, nanti kita malah ikutan gemblung Haa... haa... haa...
Dalban dan beberapa warga keluar panggung. Ki Demung kembali ke tempat duduknya semula. termenung.
--- FADE OUT ---
* * * * * * * * *
--- FADE IN ---
SETTING : JALAN
Kang Sarpin sedang termangu di bawah pohon. Tangannya memegang sebuah ranting kering. Sesekali memainkannya seperti sedang menggambar di atas tanah. Sesaat kemudian ia berdiri. Berjalan mondar-mandir. Menimang-nimang ranting yang ada di tangannya.
Seorang perempuan muda memasuki panggung. Berjalan dengan kesan menggoda. Kang Sarpin kelimpungan. si Perempuan yang tahu akan hal itu, justru semakin menggoda Kang Sarpin
dengan jinak-jinak merpati. Kang Sarpin semakin kelimpungan. Hingga akhirnya, saat Perempuan itu keluar dari panggung,
Kang Sarpin pun mengikutinya.
(Paham maksudnya, kan... )
FADE OUT
* * * * * * * * *
--- FADE IN ---
SETTING : DEPAN RUMAH KI DEMUNG
KI DEMUNG DUDUK DI SEBUAH KURSI BAMBU. SEGELAS KOPI DAN BEBERAPA MAKANAN KECIL DI ATAS PIRING BERADA DI SAMPINGNYA. ADA SEBATANG ROKOK TERSELIP DI ANTARA JARI-JEMARINYA. WAJAHNYA NAMPAK TEDUH BERSAHAJA. LALU KANG Sarpin mendatangi Ki Demung dengan Langkah gontai. seperti habis bekerja keras (Tahu kan...?)
55. Kang Sarpin :
Ki... tentu kau sudah tahu siapa saya dan sifat buruk saya?
56. Ki Demung :
Tapi... tentunya kau lebih tahu, kan kang?
57. Kang Sarpin :
Kau selalu begitu kalau aku ajak ngomong. Kali ini serius, Ki.
58. Ki Demung :
Kapan aku tidak serius, kang?
59. Kang Sarpin :
Baiklah... baiklah... kalau begitu, memangnya kenapa kalau aku menjawab iya untuk pertanyaanmu itu?
60. Kang Sarpin :
Itu dia masalahnya, Ki. Aku sendiri juga tidak habis pikir. Ki Demung tahukan, saya ini mempunyai sifat jelek. Wong gemblung. Doyan main perempuan.
61. Ki Demung :
Lalu?
62. Kang Sarpin :
Sebetulnya... saya tahu kok, Ki, kalau orang sekampung ini tidak menyukai saya. Saya tahu itu dari sikap mereka saat bertemu saya. Atau saat berpapasan di jalan. Terkadang, saya merasa saya adalah aib di kampung ini. Lalu saya mulai merasa juga, mungkin kampung ini akan lebih baik tanpa saya.
63. Ki Demung :
Kau yakin merasa seperti itu?
64. Kang Sarpin :
Itu yang saya rasakan
65. Ki Demung :
Bagaimana kalau orang lain tidak merasa seperti itu?
66. Kang Sarpin :
Tidak mungkin itu Ki. Tidak mungkin...!
67. Ki Demung :
Tidak mungkin bagaimana?
68. Kang Sarpin :
Ya... yaa... (tergagap, tidak bisa menjawab).
Jadi bagaimana, Ki?
69. Ki Demung :
Bukannya aku yang harus bertanya seperti itu?
70. Kang sarpin :
Sudahlah kang... saya sedang tidak ingin berpikir yang berat-berat seperti itu.
71. Ki Demung :
Begini lho kang. Kalau Kang Sarpin sudah tahu bahwa semua orang tidak suka dengan keberadaanmu di kampung ini, tentu mereka akan mengusir Kang Sarpin dari kampung ini. Tapi, kenyataannya?? Ternyata tidak seorangpun di kampung ini yang mengusik Kang Sarpin. Tidak ada yang mengganggu, atau mengusir. Lalu kenapa Kang Sarpin merasa menjadi aib??
72. Kang Sarpin :
Permasalahannya bukan hanya itu kang. Saya sendiri yang juga merasa selalu diteror dengan tatapan mereka. Seolah saya ini dianggap pasir yang masuk ke bola mata mereka. Lalu mereka terus mengucek-ucek mata mereka agar bisa mengeluarkan pasir itu. Tapi saya kan juga punya keluarga, Ki. Saya punya istri. Punya anak. Bahkan anak saya yang paling tua, sudah mau menikah bulan depan. Lalu saya akan menjadi seorang kakek.
73. Ki Demung :
Kalau begitu, apa yang akan Kang Sarpin lakukan?
74. Kang Sarpin :
Terus terang, Ki. Sebenarnya, saya juga malu dengan sifat buruk saya itu. Saya tidak mau jadi wong gemblung lagi. Apalagi, nanti kalau sudah punya cucu.
Saya tidak mau cucu saya juga ikut-ikutan menyebut saya wong gemblung. Saya ingin jadi orang baik-baik kang. Seperti orang lain. menjalani hidup apa adanya. Tidak neko-neko...
KI DEMUNG PARUH BAYA dan Kang Sarpin terdiam sesaat
75. Kang Sarpin :
Tapi Bagaimana caranya, Ki? Bagiamana?
76. Ki Demung :
Yang seperti itu kok malah tanya aku...
77. Kang Sarpin :
Kalau tidak ke sampeyan... ke siapa lagi Ki?
78. Ki Demung :
Ke diri sendiri dong. Kang Sarpin mau jadi orang baik-baik, itu tergantung pada Kang Sarpin sendiri. Tidak mau disebut wong gemblung, itu juga tergantung pada Kang Sarpin. Jadi, kalau mau jadi baik, ya jadilah orang baik. Terserah pada Kang Sarpin sendiri, mau jadi wong gemblung atau tidak.
79. Kang Sarpin :
Tidak Ki... saya tidak mau jadi wong gemblung.
80. Ki Demung :
Ya Sudah... tinggal sekarang bagaimana Kang Sarpin sendiri.
81. Kang Sarpin :
Itu dia masalahnya, kang... Dan itu juga, mengapa saya datang kemari
82. Ki Demung :
Lha iya..., semuanya itu kembali pada diri Kang Sarpin sendiri
83. Kang Sarpin :
Tapi sulit Ki...
84. Ki Demung :
Itu juga tergantung pada keseriusan Kang Sarpin. Tergantung pada kesungguhan Kang Sarpin
85. Kang Sarpin :
Saya sungguh-sungguh, Ki. Dan sekarang, saya capai Ki. Berulangkali saya tidak tahu harus bagaimana lagi untuk urusan yang satui ini. Saya stress, Ki. Lalu saya pun sempat berpikir, apakah saya memang ditakdirkan untuk jadi wong gemblung. Tapi kenapa, kang? Kenapa?
86. Ki Demung :
Kenapa? Kau bertanya kepada siapa?
87. Ki Demung :
Kenapa saya tidak bisa jadi orang baik dan tidak gemblung?
88. Ki Demung :
Persoalannya, sebetulnya bukan siapa yang mengatakan kita ini orang baik atau jelek. Gemblung atau tidak? Karena bisa saja orang mengatakan baik, tapi ternyata tidak. Ada yang mengatakan gemblung, tapi ternyata tidak juga.
89. Kang Sarpin :
Saya bukan orang baik, Ki. Dan saya memang wong gemblung
90. Ki Demung :
Kang Sarpin sadar tidak dengan apa yang Kang Sarpin lakukan selama ini?
91. Kang Sarpin :
Sadar kang. Ya... walaupun sesekali juga harus dengan sedikit minuman untuk melakukannya. Sedikit mabuk. Hitung-hitung untuk variasi-lah, Ki... Memang apa hubungannya?
92. Ki Demung :
Bukan itu maksud saya, kang. Karena bisa saja orang yang tidak mabuk itu juga tidak sadar. Maksud saya begini..., orang baik itu adalah orang yang sadar dan tahu apa yang sedang ia lakukan. Atau begini, orang baik itu adalah orang yang bisa menempatkan diri pada tempatnya. Empan papan, kalau istilah orang jawa. Jadi, Tahu apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dihindari. Dan juga, tahu mengapa ia melakukan hal itu.
93. Kang Sarpin :
Aah... dari tadi sampeyan bicara teori melulu sih Ki? Kau tidak tahu apa yang sekarang terjadi dalam diri saya. Tetap jadi wong gemblung seperti sekarang ini. Dan juga kenapa saya tidak bisa jadi orang baik.?
94. Ki Demung :
Tidak bisa atau tidak mau?
95. Kang Sarpin :
Ahh... terserah mau dibilang apa. Masalahnya bukan hanya itu...
96. Ki Demung :
Lalu apa?
97. Kang Sarpin :
(Menunjuk pada kemaluannya) Ini lho, Ki. Makhluk yang satu ini lho masalahnya.
98. Ki Demung :
Ada apa dengannya?
99. Kang Sarpin :
Nah, itu yang tadi saya bilang, sampeyan tidak tahu tentang apa yang ada dalam diri saya.
100. Ki Demung :
Bagaimana?
101. Kang Sarpin :
Makhluk ini lho Ki (kembali menunjuk pada kemaluannya).
Waah... kalau sudah punya keinginan, maunya harus dituruti.
Dia itu keras kepala sekali, kang. Bila sedang punya keinginan, tidak bisa dicegah. Tidak peduli di mana dan kapan. Itu masalahnya, Ki. Saya sendiri sering dibuat jengkel olehnya. Karena kalau keinginannya tidak dituruti, ia bisa menyerang bagian yang lain kang. Misalnya, pikiran saya jadi tidak tenang. Hati saya gelisah. Pokonya, seperti ada yang kurang. Jadi, ya akhirnya saya tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menuruti apa maunya.
102. Ki Demung :
Lha kalau Kang Sarpin sendiri tidak bisa, apalagi saya, kang.
(Menunjuk pada kemaluan Kang Sarpin) Padahal itu milik siapa?
103. Kang Sarpin :
Ya milik saya, Ki. Tapi, aah... pokoknya begini, Ki. Saya datang ke sini ini, karena saya sudah tidak tahu harus bagaimana lagi. Saya sudah benar-benar tidak mau lagi jadi wong gemblung. Saya rela diapakan saja asal bisa jadi wong bener dan tidak gemblung lagi.
KEDUANYA TERDIAM SESAAT.
104. Kang Sarpin :
Apa mungkin harus dihilangkan ya, Kang?
105. Ki Demung :
Dihilangkan??! Apanya yang dihilangkan?
106. Kang Sarpin :
Ya... punyaku
107. Ki Demung :
Maksudmu... itumu yang harus dihilangkan?
KANG SARPIN HANYA MENGANGGUK. KI DEMUNG TERKEJUT dan bingung, tidak tahu apa yang akan ia katakan
108. Kang Sarpin :
Ya... bagaimana lagi, Ki. Saya rasa itu memang satu-satunya cara untuk menghentikan kegemblungan saya. Aah..., makhluk kurang ajar ini memang harus dikebiri. Nah Sekarang, tolong kasih tahu saya, Ki, dokter mana yang mau mengebiri saya.
109. Ki Demung :
Kamu jangan bercanda, Kang.
110. Kang Sarpin :
Tidak Ki. Saya tidak main-main. Betul, saya tidak main-main!!
KEDUANYA KEMBALI TERDIAM SESAAT.
111. Ki Demung :
Hmm... begini kang. Sebetulnya setiap permasalahan itu harus dihadapi. Bukan dihindari.
112. Kang Sarpin :
Apa hubungannya dengan punyaku ini, Ki?
113. Ki Demung :
Begini, kang… Sebetulnya, yang menjadi masalah itu bukan punya kamu itu kok, kang. Tapi yang punya itu. Karena segala sesuatu yang telah diberikan oleh Tuhan kepada hamba-hambanya, itu tergantung kepada Bagaimana manusia itu menggunakannya. Bagaimana manusia mengaturnya. Jadi, ya harus tetap disukuri. Seburuk apapun itu. Nah, kalau menurut saya, Kang sarpin tidak perlu dikebiri. Tapi bagaimana Kang Sarpin bisa mengatur dan mengendalikan milik Kang sarpin itu.
114. Kang Sarpin :
Permasalahannya, Ki, saya sudah tidak bisa mengendalikan punya saya ini. Tadi kan sudah saya bilang, yang satu ini memang bandelnya minta ampun. Lha wong lihat luarnya saja sudah tidak tahan, apalagi… Ya begitulah, Ki. Jadi, tolong saya Ki. Beritahu saya, dokter mana yang bisa mengebiri. Itu saja. Urusan lainnya, Ki Demung tidak usah perlu repot-repot.
Tidak perlu bertanggung jawab kalau ada apa-apa. Semuanya akan saya tanggung sendiri. Jadi… tolong saya, Ki?? Di mana dokter itu?? Tunjukkan kepada saya, Ki! Tunjukkan…!
115. Ki Demung :
Keinginanmu itu ganjil sekali Kang. Selama hidup saya, tidak pernah ada orang yang punya keinginan seperti itu.
116. Kang Sarpin :
Memang kenapa, Ki?? Apa saya tidak boleh jadi orang waras?! Ya sudah, kalau Ki Demung tidak mau menolong, besok saya akan ke desa sebelah. Saya dengar, di sana ada seorang yang suka adu mengadu ayam dan mengebiri ayam-ayam jagoannya. Biar saya suruh orang itu juga mengebiri saya…!!
Kang SARPIN HENDAK MENINGGALKAN TEMAPT ITU. NAMUN KI DEMUNG MENCEGAHNYA.
117. Ki Demung :
Ee… tunggu dulu, kang. Bukan saya tidak mau menolong Kang Sarpin. Tapi…
118. Kang Sarpin :
Tapi kenapa Ki?? Yang jelas, saya sudah mantap. Saya tidak mau lagi disebut wong gemblung. Saya benar-benar ingin jadi orang waras. Jadi orang baik-baik. Cuma itu!
119. Ki Demung :
Ya sudah. Begini saja, besok saya ajak Kang Sarpin ke dokter kenalan saya. Barangkali saja ia punyai cara lain untuk membantu.
120. Kang Sarpin :
Wahh… terima kasih sekali Ki. Terima kasih. Benar dugaan saya, Ki Demung pasti bisa menolong saya. Yang penting, saya bisa jadi orang baik. Itu saja. Terserah bagaimanapun caranya. Sekali lagi, terima kasih ya Ki…
Sekarang, saya mau pulang dulu. Akan saya ceritakan kepada istri dan anak-anak saya, bahwa sebentar lagi, mereka akan punya suami yang tidak gemblung lagi. Mereka akan mempunyai ayah yang baik. Terima kasih Ki…
Kang Sarpin pun berpamitan dan meninggalkan Ki Demung yang hanya tersenyum memandang kepergian Kang Sarpin.
--- FADE OUT ---
* * * * * * * * *
FADE IN
SETTING : JALAN
dalban dan beberapa orang memasuki panggung. mereka menjemput seorang modin untuk upacara kematian kang sarpin.
121. Modin :
Kang, adik iparmu yang meninggal, tapi kok sepertinya kamu tidak sedih.
122. DALBAN :
Biar saja. Memang apa yang harus disedihkan untuk wong gemblung macam si Sarpin itu?
123. Warga II :
Tapi bagaimanapun juga, ia adik iparmu, kang
124. Dalban :
Aku tahu itu. Lebih baik mati kan daripada hidup bikin malu keluarga
125. Modin :
Kamu jangan ngomong begitu…
126. Dalban :
Lalu saya harus bagaimana? Menangisi mayatnya? Huh… tidak akan.
Ki demung masuk panggung. Berpapasan dengan rombongan Dalban.
127. Ki demung :
Loh… Pak Modin, Kang Dalban. Mau ke mana ini?
128. DALBAN :
Lha sampeyan sendiri mau ke mana, Ki?
129. Ki Demung :
Mau ke pasar. Kemarin sudah janjian sama Kang Sarpin
130. DALBAN :
Wuallahh… Ki… Ki… Wong gemblung itu sudah jadi mayat.
131. Ki Demung :
Maksud Kang Dalban??
132. DALBAN :
Wong gemblung itu sudah mati tadi pagi. Lha ini Pak Modin yang mau mimpin acara untuk mengubur.
133. KI DEMUNG :
Innalillahi wa inna ilaihi raaji`uun. Bagaimana Kang Sarpin meninggal?
134. DALBAN :
Kecelakaan di pasar. Ya… mungkin lagi gemblung-gemblungnya terus kesenggol mobil
135. Ki Demung :
Kesenggol mobil bagaimana, kang?
136. DALBAN :
Begini, Ki. Pagi-pagi sekali wong gemblung itu sudah ke pasar membawa sekarung beras untuk dijual. Karena terlalu berat, sepedanya oleng. Si Sarpin jatuh. Eee… dari belakang ada mobil yang nyenggol. Ya… akhirnya mati juga wong gemblung itu.
Kata istrinya sih, Si Sarpin lagi butuh uang untuk berobat. Haa…haa… lha wong badannya segar bugar gitu kok mau berobat. Itu namanya si Sarpin tambah gemblung lagi kan?? Haa… haa…
137. MODIN :
Huss… Kamu itu lho.
138. Dalban :
Memang sampeyan janjian apa dengan Si Sarpin?
139. Ki demung :
Sayang…
140. MODIN :
Memang kenapa, Ki kok kasihan?
141. Dalban :
Ki Demung bilang apa? Sayang? Bagaimana kawan-kawan? Masa kematian Si Sarpin patut disayangkan? Yang benar saja, Ki. Haa…haa… haa…
142. WARGA :
Haa…haa… haa…
Yang patut sayangkan itu kalau orang waras yang meninggal?
Iya, Ki. Orang tidak ada baiknya seperti itu kok matinya disayangkan?!
Haa…haa… haa…
143. Ki Demung :
Saya tidak menyayangkan kematian Kang Sarpin. Tapi kampung ini?
144. MODIN :
Memang kenapa dengan kampung ini?
145. KI DEMUNG :
Kampung ini kehilangan satu orang baik
146. DALBAN :
Apa??! Ki Demung bilang apa??!
147. KI DEMUNG :
Kampung ini kehilangan satu orang baik
148. DALBAN :
Haa…haa… haa… Heh kawan-kawan, kalian dengar apa yang dikatakan Ki Demung?
149. WARGA :
Haa…haa… haa…
Yang benar saja, Ki?
Waah… tumben Ki Demung bisa bercanda nih…
150. Ki Demung :
Siapa yang bercanda? Aku serius. Kang Sarpin itu orang baik.
151. MODIN :
Maksud Ki Demung? Bukankah jelas-jelas Kang Sarpin itu doyan main perempuan. Jangankan yang muda-muda, janda tua pun dia sikat juga. Memang, dia berpantangan untuk meniduri perempuan yang sudah bersuami. Tapi, yang namanya doyan main m perempuan, tetap saja doyan main. Lha orang seperti itu kok dikatakan baik??
152. Ki Demung :
Saya berani bersaksi, pak. Karena menurut saya, orang yang tahu kalau dirinya gemblung dan tidak waras, kemudian sadar dengan kekeliruannya sehingga mau bertobat dan bercita-cita jadi wong bener, itulah orang baik. Dan Kang Sarpin telah membuktikan itu. Meski akhirnya, ia harus meninggal sebelum melaksanakan cita-citanya.
--- S E L E S A I ---
Transformasi Cerpen KANG SARPIN MINTA DIKEBIRI
karya Ahmad Tohari
SEBUAH KESAKSIAN
Oleh : Mazfans
JOGJAKARTA
Oktober 2005
SEBUAH KESAKSIAN
Tentang baik buruknya perbuatan
yang tergantung kepada niat yang ditekadkan.
Karena terkadang, yang terjadi akan berbeda dengan yang diinginkan. Namun sudah menjadi suratan, jika manusia
melihat dengan mata,
mendengar dengan telinga,
berbicara dengan mulut.
L A K O N :
1. KI DEMUNG
Lelaki Usia paruh baya. Sosok yang nampak teduh dan bersahaja. Pembawaannya terkesan kalem dan tenang.
2. KANG SARPIN
Lelaki usia 30-an. Lugu, bahkan terkesan gemblung dan culun namun tetap memegang teguh prinsip dan keinginannya.
3. YU SARPIN
Istri Kang Sarpin. Seorang istri yang setia dan menaruh hormat kepada suami. Seperti kebanyakan perempuan jawa yang –kepada suaminya– memiliki prinsip surgo manut neroko katut.
4. DALBAN
Kakak Yu Sarpin (Kakak ipar Kang Sarpin). Tubuhnya yang besar –atau lebih tepatnya, gendut– cocok dengan karakternya yang sok dan kemaki. Namun, pepatah mengatakan tong kosong berbunyi nyaring.
5. FIGURANTS
Warga Desa, Perempuan, Modin
SETTING : DEPAN rUMAH KI DEMUNG
KI demung DUDUK DI SEBUAH KURSI BAMBU. SEGELAS KOPI DAN BEBERAPA MAKANAN KECIL DI ATAS PIRING BERADA DI SAMPINGNYA. ADA SEBATANG ROKOK TERSELIP DI ANTARA JARI-JEMARINYA. WAJAHNYA NAMPAK TEDUH BERSAHAJA.
Tiba-tiba Yu Sarpin mendatangi ki demung dengan tergopoh..
1. Yu Sarpin :
Katiwasan Ki.. katiwasan…
2. Ki Demung :
Ada apa, yu?
3. Yu Sarpin :
Kali ini suamiku benar-benar keterlaluan...
4. Ki Demung :
Main perempuan lagi?
5. Yu sarpin :
Kalau masalah itu tidak usah diomongkan lagi, Ki. Siapa yang tidak tahu watak Kang Sarpin kalau sudah bertemu dengan perempuan. Apalagi masih muda dan cantik.
6. Ki Demung :
Terus? Apa yang seperti itu juga tidak keterlaluan?
7. Yu sarpin :
Bukan begitu maksud saya Ki. Saya sendiri juga tidak habis pikir dengan sifat Kang Sarpin itu.
8. Ki Demung :
Permasalahannya tidak akan selesai jika hanya dipikir yu...
9. Yu Sarpin :
Lalu apa yang harus saya lakukan, Ki. Sebagai seorang istri, saya juga sudah mencoba untuk istri yang baik. Tugas dan kewajiban istri sudah saya . Baik urusan dapur, sumur dan kasur. Tapi...
10. Ki Demung :
Ya... kalau kamu merasa sudah memenuhi tugas dan kewajibanmu sebagai istri, coba kamu perhatikan suamimu.
11. Yu Sarpin :
Apa yang selama ini saya lakukan di dapur, di sumur dan di kasur itu tidak cukup untuk kang Sarpin
12. Ki Demung :
Mungkin saja... karena masing-masing orang kan tidak sama dalam soal cukup dan tidak cukup. Cukup bagi kamu, mungkin belum cukup bagi suamimu.
13. Yu Sarpin :
Aku mesti bagaimana lagi Ki? Aku capek mikirinnya.
14. Ki Demung :
Ya, sudah... nanti pasti juga ada jalan keluarnya.
15. Yu Sarpin :
Nanti...??! Nanti itu kapan, Ki? Saya sudah menganggap nanti itu tidak ada. Tidak akan habis...
16. Ki Demung :
Kau sudah mulai seperti suamimu saja.
17. Yu Sarpin :
Apa maksudmu, Ki??! Apa kau menganggap aku seorang istri yang tidak setia??! Perempuan yang doyan laki-laki??!
18. Ki Demung :
Bukan itu maksudku…
19. Yu Sarpin :
Lalu apa??! Aku berani bersumpah Ki, laki-laki yang pernah tidur denganku hanya Kang Sarpin, suamiku. Tujuh turunan aku berani bersumpah untuk itu!
20. Ki Demung :
Aku percaya… bahkan di desa ini, siapa yang berani meragukan kesetiaanmu sebagai seorang istri yang baik dan setia?
21. Yu Sarpin :
Kalau begitu, apa maksudmu menyamakan aku dengan suamiku.
22. Ki Demung :
Cara bicaramu itu…
23. Yu Sarpin :
Aku tidak peduli dengan itu. Aku hanya kesal dengan ulah Kang Sarpin itu. Apalagi yang sekarang sedang ia lakukan di pasar. Keterlaluan Ki … keterlaluan. Aku malu, Ki.
24. Ki Demung :
Memang apa yang sekarang dilakukan Kang Sarpin di pasar? Bukankah setiap hari ia juga ke pasar. Itu juga karena tugasnya sebagai seorang suami. Sebagai seorang kepala keluarga yang mempunyai kewajiban untuk menafkahi keluarga. Apa itu salah?
25. Yu Sarpin :
Aduuhh… Ki... Apa sampeyan tidak mendengar apa yang sekarang terjadi di pasar.
26. Ki Demung :
Sedari tadi aku hanya duduk di sini. Belum ada seorangpun yang lewat sini.
Tiba-tiba dalban dan beberapa orang warga desa berjalan melintasi tempat itu
27. warga I :
Bagaimana kang? Apa yang seperti itu tidak keterlaluan?
28. Dalban :
Nah... itu dia istrinya.
(Kepada Yu Sarpin) Lihat suamimu itu. Lihat orang gemblung itu...
29. Ki Demung :
Gemblung bagaimana, kang?
30. Dalban :
Ya... bagaimana aku tidak menyebut iparku itu wong gemblung. Coba Ki Demung bayangkan saja...
(Diam sejenak dan memperhatikan Yu Sarpin) Apa dia belum cerita tentang apa yang dilakukan suaminya di pasar?
31. Yu Sarpin :
Sudahlah, kang. Peristiwa memalukan itu tidak usah diceritakan...!
32. Dalban :
Jika tidak diceritakan sekarang, semua orang di desa ini juga akan tahu apa yang orang gemblung itu lakukan demi lima puluh ribu rupiah. Jadi.... ya sama saja. Diceritakan atau tidak, semua orang akan tahu.
33. Ki Demung :
Memang apa yang dilakukan Kang Sarpin untuk uang sebesar itu?
34. Dalban :
Ya... ya... ya... aku akan menceritakannya kepadamu. Tapi kau harus janji?
35. Ki Demung :
Apa??
36. Dalban :
Kau tidak akan tertawa saat mendengarkan ceritaku. Bagaimana?
37. Ki Demung :
Begini saja. Kalau lucu, aku akan tertawa. Kalau sedih aku akan mengangis. Dan kalau menyenangkan, aku akan ikut bahagia. Bagaimana?
38. Dalban :
Haa...haa...haa... Kau tidak kasihan melihat adikku??
39. Ki Demung :
Sudahlah... sekarang kau ceritakan saja kepadaku.
40. Dalban :
Waah... kau sudah tidak sabaran lagi yah? Baik... baik... aku akan ceritakan kepadamu. Begini... saat pasar mulai ramai, beberapa orang desa sini berkumpul di depan keranjang dagangan Kang Sarpin. Biasa.... mereka hendak membeli beberapa kebutuhan untuk hari itu. Lalu...
41. Yu Sarpin :
Sudah... sudah... silahkan kalau kalian mau membicarakan suamiku. Aku akan pulang. Masak!!
YU Sarpin keluar dari panggung. Semua orang memandang kepergiannya. Nampak beberapa orang cengar-cengir sambil berbisik-bisik. Beberapa orang lainnya melihat tanpa ekspresi. Ada juga yang termangu.
42. Dalban :
Aku lanjutkan lagi, ya.... Nah ketika mereka tengah menawar dagangan Kang sarpin, tiba-tiba ada yang berani menawar tinggi. Kang Sarpin nampak senang dan mau-mau saja. Apalagi yang mau menawar tidak hanya satu orang. Hampir semuanya berani menawar tinggi. Tapi...
43. Ki Demung :
Sebentar... sebentar... Lalu apa hubungannya kau menyebut iparmu itu dengan wong gemblung?
44. Dalban :
Bagaimana aku tidak menyebut iparku itu wong gemblung.
Coba dengar, orang-orang yang menawar tinggi itu mengajukan sarat. Mereka menantang iparku itu, kalau ia benar-benar jantan, mereka berani membeli dagangan yang harganya sepuluh ribu dengan harga lima puluh ribu.
45. Ki Demung :
Apa saratnya?
46. Dalban :
Si Sarpin harus berani membuka celana dan telanjang di depan banyak orang.
47. Ki Demung :
Lalu?
48. Dalban :
Haa... haa... haa.... Hey kawan-kawan, lalu apa yang terjadi? Beritahu dia! Ayo beritahu dia... Kalian ceritakan saja apa yang dilakukan wong gemblung itu!
49. Warga II :
Tanpa pikir panjang, eee.... Kang Sarpin menerima tantangan itu.
50. Warga III :
Ya... Kang sarpin langsung menelanjangi dirinya. Lalu dengan enaknya dia berjalan mondar-mandir dengan bertelanjang bulat, sambil menagih uang lima puluh ribu itu.
51. Warga II :
Dan akhirnya, orang-orang yang tadi menantangnya hanya nyengir dan malu sambil membayar janjinya.
52. Dalban :
Bagaimana Ki? Apa itu bukan wong gemblung namanya?
53. Warga :
Iya Ki... wong gemblung. Haa... haa... haa...
Gemblung... gemblung... Haa... haa... haa...
54. Dalban :
Sudah.... sudah... ayo kita pulang saja.... Bisa-bisa, nanti kita malah ikutan gemblung Haa... haa... haa...
Dalban dan beberapa warga keluar panggung. Ki Demung kembali ke tempat duduknya semula. termenung.
--- FADE OUT ---
* * * * * * * * *
--- FADE IN ---
SETTING : JALAN
Kang Sarpin sedang termangu di bawah pohon. Tangannya memegang sebuah ranting kering. Sesekali memainkannya seperti sedang menggambar di atas tanah. Sesaat kemudian ia berdiri. Berjalan mondar-mandir. Menimang-nimang ranting yang ada di tangannya.
Seorang perempuan muda memasuki panggung. Berjalan dengan kesan menggoda. Kang Sarpin kelimpungan. si Perempuan yang tahu akan hal itu, justru semakin menggoda Kang Sarpin
dengan jinak-jinak merpati. Kang Sarpin semakin kelimpungan. Hingga akhirnya, saat Perempuan itu keluar dari panggung,
Kang Sarpin pun mengikutinya.
(Paham maksudnya, kan... )
FADE OUT
* * * * * * * * *
--- FADE IN ---
SETTING : DEPAN RUMAH KI DEMUNG
KI DEMUNG DUDUK DI SEBUAH KURSI BAMBU. SEGELAS KOPI DAN BEBERAPA MAKANAN KECIL DI ATAS PIRING BERADA DI SAMPINGNYA. ADA SEBATANG ROKOK TERSELIP DI ANTARA JARI-JEMARINYA. WAJAHNYA NAMPAK TEDUH BERSAHAJA. LALU KANG Sarpin mendatangi Ki Demung dengan Langkah gontai. seperti habis bekerja keras (Tahu kan...?)
55. Kang Sarpin :
Ki... tentu kau sudah tahu siapa saya dan sifat buruk saya?
56. Ki Demung :
Tapi... tentunya kau lebih tahu, kan kang?
57. Kang Sarpin :
Kau selalu begitu kalau aku ajak ngomong. Kali ini serius, Ki.
58. Ki Demung :
Kapan aku tidak serius, kang?
59. Kang Sarpin :
Baiklah... baiklah... kalau begitu, memangnya kenapa kalau aku menjawab iya untuk pertanyaanmu itu?
60. Kang Sarpin :
Itu dia masalahnya, Ki. Aku sendiri juga tidak habis pikir. Ki Demung tahukan, saya ini mempunyai sifat jelek. Wong gemblung. Doyan main perempuan.
61. Ki Demung :
Lalu?
62. Kang Sarpin :
Sebetulnya... saya tahu kok, Ki, kalau orang sekampung ini tidak menyukai saya. Saya tahu itu dari sikap mereka saat bertemu saya. Atau saat berpapasan di jalan. Terkadang, saya merasa saya adalah aib di kampung ini. Lalu saya mulai merasa juga, mungkin kampung ini akan lebih baik tanpa saya.
63. Ki Demung :
Kau yakin merasa seperti itu?
64. Kang Sarpin :
Itu yang saya rasakan
65. Ki Demung :
Bagaimana kalau orang lain tidak merasa seperti itu?
66. Kang Sarpin :
Tidak mungkin itu Ki. Tidak mungkin...!
67. Ki Demung :
Tidak mungkin bagaimana?
68. Kang Sarpin :
Ya... yaa... (tergagap, tidak bisa menjawab).
Jadi bagaimana, Ki?
69. Ki Demung :
Bukannya aku yang harus bertanya seperti itu?
70. Kang sarpin :
Sudahlah kang... saya sedang tidak ingin berpikir yang berat-berat seperti itu.
71. Ki Demung :
Begini lho kang. Kalau Kang Sarpin sudah tahu bahwa semua orang tidak suka dengan keberadaanmu di kampung ini, tentu mereka akan mengusir Kang Sarpin dari kampung ini. Tapi, kenyataannya?? Ternyata tidak seorangpun di kampung ini yang mengusik Kang Sarpin. Tidak ada yang mengganggu, atau mengusir. Lalu kenapa Kang Sarpin merasa menjadi aib??
72. Kang Sarpin :
Permasalahannya bukan hanya itu kang. Saya sendiri yang juga merasa selalu diteror dengan tatapan mereka. Seolah saya ini dianggap pasir yang masuk ke bola mata mereka. Lalu mereka terus mengucek-ucek mata mereka agar bisa mengeluarkan pasir itu. Tapi saya kan juga punya keluarga, Ki. Saya punya istri. Punya anak. Bahkan anak saya yang paling tua, sudah mau menikah bulan depan. Lalu saya akan menjadi seorang kakek.
73. Ki Demung :
Kalau begitu, apa yang akan Kang Sarpin lakukan?
74. Kang Sarpin :
Terus terang, Ki. Sebenarnya, saya juga malu dengan sifat buruk saya itu. Saya tidak mau jadi wong gemblung lagi. Apalagi, nanti kalau sudah punya cucu.
Saya tidak mau cucu saya juga ikut-ikutan menyebut saya wong gemblung. Saya ingin jadi orang baik-baik kang. Seperti orang lain. menjalani hidup apa adanya. Tidak neko-neko...
KI DEMUNG PARUH BAYA dan Kang Sarpin terdiam sesaat
75. Kang Sarpin :
Tapi Bagaimana caranya, Ki? Bagiamana?
76. Ki Demung :
Yang seperti itu kok malah tanya aku...
77. Kang Sarpin :
Kalau tidak ke sampeyan... ke siapa lagi Ki?
78. Ki Demung :
Ke diri sendiri dong. Kang Sarpin mau jadi orang baik-baik, itu tergantung pada Kang Sarpin sendiri. Tidak mau disebut wong gemblung, itu juga tergantung pada Kang Sarpin. Jadi, kalau mau jadi baik, ya jadilah orang baik. Terserah pada Kang Sarpin sendiri, mau jadi wong gemblung atau tidak.
79. Kang Sarpin :
Tidak Ki... saya tidak mau jadi wong gemblung.
80. Ki Demung :
Ya Sudah... tinggal sekarang bagaimana Kang Sarpin sendiri.
81. Kang Sarpin :
Itu dia masalahnya, kang... Dan itu juga, mengapa saya datang kemari
82. Ki Demung :
Lha iya..., semuanya itu kembali pada diri Kang Sarpin sendiri
83. Kang Sarpin :
Tapi sulit Ki...
84. Ki Demung :
Itu juga tergantung pada keseriusan Kang Sarpin. Tergantung pada kesungguhan Kang Sarpin
85. Kang Sarpin :
Saya sungguh-sungguh, Ki. Dan sekarang, saya capai Ki. Berulangkali saya tidak tahu harus bagaimana lagi untuk urusan yang satui ini. Saya stress, Ki. Lalu saya pun sempat berpikir, apakah saya memang ditakdirkan untuk jadi wong gemblung. Tapi kenapa, kang? Kenapa?
86. Ki Demung :
Kenapa? Kau bertanya kepada siapa?
87. Ki Demung :
Kenapa saya tidak bisa jadi orang baik dan tidak gemblung?
88. Ki Demung :
Persoalannya, sebetulnya bukan siapa yang mengatakan kita ini orang baik atau jelek. Gemblung atau tidak? Karena bisa saja orang mengatakan baik, tapi ternyata tidak. Ada yang mengatakan gemblung, tapi ternyata tidak juga.
89. Kang Sarpin :
Saya bukan orang baik, Ki. Dan saya memang wong gemblung
90. Ki Demung :
Kang Sarpin sadar tidak dengan apa yang Kang Sarpin lakukan selama ini?
91. Kang Sarpin :
Sadar kang. Ya... walaupun sesekali juga harus dengan sedikit minuman untuk melakukannya. Sedikit mabuk. Hitung-hitung untuk variasi-lah, Ki... Memang apa hubungannya?
92. Ki Demung :
Bukan itu maksud saya, kang. Karena bisa saja orang yang tidak mabuk itu juga tidak sadar. Maksud saya begini..., orang baik itu adalah orang yang sadar dan tahu apa yang sedang ia lakukan. Atau begini, orang baik itu adalah orang yang bisa menempatkan diri pada tempatnya. Empan papan, kalau istilah orang jawa. Jadi, Tahu apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dihindari. Dan juga, tahu mengapa ia melakukan hal itu.
93. Kang Sarpin :
Aah... dari tadi sampeyan bicara teori melulu sih Ki? Kau tidak tahu apa yang sekarang terjadi dalam diri saya. Tetap jadi wong gemblung seperti sekarang ini. Dan juga kenapa saya tidak bisa jadi orang baik.?
94. Ki Demung :
Tidak bisa atau tidak mau?
95. Kang Sarpin :
Ahh... terserah mau dibilang apa. Masalahnya bukan hanya itu...
96. Ki Demung :
Lalu apa?
97. Kang Sarpin :
(Menunjuk pada kemaluannya) Ini lho, Ki. Makhluk yang satu ini lho masalahnya.
98. Ki Demung :
Ada apa dengannya?
99. Kang Sarpin :
Nah, itu yang tadi saya bilang, sampeyan tidak tahu tentang apa yang ada dalam diri saya.
100. Ki Demung :
Bagaimana?
101. Kang Sarpin :
Makhluk ini lho Ki (kembali menunjuk pada kemaluannya).
Waah... kalau sudah punya keinginan, maunya harus dituruti.
Dia itu keras kepala sekali, kang. Bila sedang punya keinginan, tidak bisa dicegah. Tidak peduli di mana dan kapan. Itu masalahnya, Ki. Saya sendiri sering dibuat jengkel olehnya. Karena kalau keinginannya tidak dituruti, ia bisa menyerang bagian yang lain kang. Misalnya, pikiran saya jadi tidak tenang. Hati saya gelisah. Pokonya, seperti ada yang kurang. Jadi, ya akhirnya saya tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menuruti apa maunya.
102. Ki Demung :
Lha kalau Kang Sarpin sendiri tidak bisa, apalagi saya, kang.
(Menunjuk pada kemaluan Kang Sarpin) Padahal itu milik siapa?
103. Kang Sarpin :
Ya milik saya, Ki. Tapi, aah... pokoknya begini, Ki. Saya datang ke sini ini, karena saya sudah tidak tahu harus bagaimana lagi. Saya sudah benar-benar tidak mau lagi jadi wong gemblung. Saya rela diapakan saja asal bisa jadi wong bener dan tidak gemblung lagi.
KEDUANYA TERDIAM SESAAT.
104. Kang Sarpin :
Apa mungkin harus dihilangkan ya, Kang?
105. Ki Demung :
Dihilangkan??! Apanya yang dihilangkan?
106. Kang Sarpin :
Ya... punyaku
107. Ki Demung :
Maksudmu... itumu yang harus dihilangkan?
KANG SARPIN HANYA MENGANGGUK. KI DEMUNG TERKEJUT dan bingung, tidak tahu apa yang akan ia katakan
108. Kang Sarpin :
Ya... bagaimana lagi, Ki. Saya rasa itu memang satu-satunya cara untuk menghentikan kegemblungan saya. Aah..., makhluk kurang ajar ini memang harus dikebiri. Nah Sekarang, tolong kasih tahu saya, Ki, dokter mana yang mau mengebiri saya.
109. Ki Demung :
Kamu jangan bercanda, Kang.
110. Kang Sarpin :
Tidak Ki. Saya tidak main-main. Betul, saya tidak main-main!!
KEDUANYA KEMBALI TERDIAM SESAAT.
111. Ki Demung :
Hmm... begini kang. Sebetulnya setiap permasalahan itu harus dihadapi. Bukan dihindari.
112. Kang Sarpin :
Apa hubungannya dengan punyaku ini, Ki?
113. Ki Demung :
Begini, kang… Sebetulnya, yang menjadi masalah itu bukan punya kamu itu kok, kang. Tapi yang punya itu. Karena segala sesuatu yang telah diberikan oleh Tuhan kepada hamba-hambanya, itu tergantung kepada Bagaimana manusia itu menggunakannya. Bagaimana manusia mengaturnya. Jadi, ya harus tetap disukuri. Seburuk apapun itu. Nah, kalau menurut saya, Kang sarpin tidak perlu dikebiri. Tapi bagaimana Kang Sarpin bisa mengatur dan mengendalikan milik Kang sarpin itu.
114. Kang Sarpin :
Permasalahannya, Ki, saya sudah tidak bisa mengendalikan punya saya ini. Tadi kan sudah saya bilang, yang satu ini memang bandelnya minta ampun. Lha wong lihat luarnya saja sudah tidak tahan, apalagi… Ya begitulah, Ki. Jadi, tolong saya Ki. Beritahu saya, dokter mana yang bisa mengebiri. Itu saja. Urusan lainnya, Ki Demung tidak usah perlu repot-repot.
Tidak perlu bertanggung jawab kalau ada apa-apa. Semuanya akan saya tanggung sendiri. Jadi… tolong saya, Ki?? Di mana dokter itu?? Tunjukkan kepada saya, Ki! Tunjukkan…!
115. Ki Demung :
Keinginanmu itu ganjil sekali Kang. Selama hidup saya, tidak pernah ada orang yang punya keinginan seperti itu.
116. Kang Sarpin :
Memang kenapa, Ki?? Apa saya tidak boleh jadi orang waras?! Ya sudah, kalau Ki Demung tidak mau menolong, besok saya akan ke desa sebelah. Saya dengar, di sana ada seorang yang suka adu mengadu ayam dan mengebiri ayam-ayam jagoannya. Biar saya suruh orang itu juga mengebiri saya…!!
Kang SARPIN HENDAK MENINGGALKAN TEMAPT ITU. NAMUN KI DEMUNG MENCEGAHNYA.
117. Ki Demung :
Ee… tunggu dulu, kang. Bukan saya tidak mau menolong Kang Sarpin. Tapi…
118. Kang Sarpin :
Tapi kenapa Ki?? Yang jelas, saya sudah mantap. Saya tidak mau lagi disebut wong gemblung. Saya benar-benar ingin jadi orang waras. Jadi orang baik-baik. Cuma itu!
119. Ki Demung :
Ya sudah. Begini saja, besok saya ajak Kang Sarpin ke dokter kenalan saya. Barangkali saja ia punyai cara lain untuk membantu.
120. Kang Sarpin :
Wahh… terima kasih sekali Ki. Terima kasih. Benar dugaan saya, Ki Demung pasti bisa menolong saya. Yang penting, saya bisa jadi orang baik. Itu saja. Terserah bagaimanapun caranya. Sekali lagi, terima kasih ya Ki…
Sekarang, saya mau pulang dulu. Akan saya ceritakan kepada istri dan anak-anak saya, bahwa sebentar lagi, mereka akan punya suami yang tidak gemblung lagi. Mereka akan mempunyai ayah yang baik. Terima kasih Ki…
Kang Sarpin pun berpamitan dan meninggalkan Ki Demung yang hanya tersenyum memandang kepergian Kang Sarpin.
--- FADE OUT ---
* * * * * * * * *
FADE IN
SETTING : JALAN
dalban dan beberapa orang memasuki panggung. mereka menjemput seorang modin untuk upacara kematian kang sarpin.
121. Modin :
Kang, adik iparmu yang meninggal, tapi kok sepertinya kamu tidak sedih.
122. DALBAN :
Biar saja. Memang apa yang harus disedihkan untuk wong gemblung macam si Sarpin itu?
123. Warga II :
Tapi bagaimanapun juga, ia adik iparmu, kang
124. Dalban :
Aku tahu itu. Lebih baik mati kan daripada hidup bikin malu keluarga
125. Modin :
Kamu jangan ngomong begitu…
126. Dalban :
Lalu saya harus bagaimana? Menangisi mayatnya? Huh… tidak akan.
Ki demung masuk panggung. Berpapasan dengan rombongan Dalban.
127. Ki demung :
Loh… Pak Modin, Kang Dalban. Mau ke mana ini?
128. DALBAN :
Lha sampeyan sendiri mau ke mana, Ki?
129. Ki Demung :
Mau ke pasar. Kemarin sudah janjian sama Kang Sarpin
130. DALBAN :
Wuallahh… Ki… Ki… Wong gemblung itu sudah jadi mayat.
131. Ki Demung :
Maksud Kang Dalban??
132. DALBAN :
Wong gemblung itu sudah mati tadi pagi. Lha ini Pak Modin yang mau mimpin acara untuk mengubur.
133. KI DEMUNG :
Innalillahi wa inna ilaihi raaji`uun. Bagaimana Kang Sarpin meninggal?
134. DALBAN :
Kecelakaan di pasar. Ya… mungkin lagi gemblung-gemblungnya terus kesenggol mobil
135. Ki Demung :
Kesenggol mobil bagaimana, kang?
136. DALBAN :
Begini, Ki. Pagi-pagi sekali wong gemblung itu sudah ke pasar membawa sekarung beras untuk dijual. Karena terlalu berat, sepedanya oleng. Si Sarpin jatuh. Eee… dari belakang ada mobil yang nyenggol. Ya… akhirnya mati juga wong gemblung itu.
Kata istrinya sih, Si Sarpin lagi butuh uang untuk berobat. Haa…haa… lha wong badannya segar bugar gitu kok mau berobat. Itu namanya si Sarpin tambah gemblung lagi kan?? Haa… haa…
137. MODIN :
Huss… Kamu itu lho.
138. Dalban :
Memang sampeyan janjian apa dengan Si Sarpin?
139. Ki demung :
Sayang…
140. MODIN :
Memang kenapa, Ki kok kasihan?
141. Dalban :
Ki Demung bilang apa? Sayang? Bagaimana kawan-kawan? Masa kematian Si Sarpin patut disayangkan? Yang benar saja, Ki. Haa…haa… haa…
142. WARGA :
Haa…haa… haa…
Yang patut sayangkan itu kalau orang waras yang meninggal?
Iya, Ki. Orang tidak ada baiknya seperti itu kok matinya disayangkan?!
Haa…haa… haa…
143. Ki Demung :
Saya tidak menyayangkan kematian Kang Sarpin. Tapi kampung ini?
144. MODIN :
Memang kenapa dengan kampung ini?
145. KI DEMUNG :
Kampung ini kehilangan satu orang baik
146. DALBAN :
Apa??! Ki Demung bilang apa??!
147. KI DEMUNG :
Kampung ini kehilangan satu orang baik
148. DALBAN :
Haa…haa… haa… Heh kawan-kawan, kalian dengar apa yang dikatakan Ki Demung?
149. WARGA :
Haa…haa… haa…
Yang benar saja, Ki?
Waah… tumben Ki Demung bisa bercanda nih…
150. Ki Demung :
Siapa yang bercanda? Aku serius. Kang Sarpin itu orang baik.
151. MODIN :
Maksud Ki Demung? Bukankah jelas-jelas Kang Sarpin itu doyan main perempuan. Jangankan yang muda-muda, janda tua pun dia sikat juga. Memang, dia berpantangan untuk meniduri perempuan yang sudah bersuami. Tapi, yang namanya doyan main m perempuan, tetap saja doyan main. Lha orang seperti itu kok dikatakan baik??
152. Ki Demung :
Saya berani bersaksi, pak. Karena menurut saya, orang yang tahu kalau dirinya gemblung dan tidak waras, kemudian sadar dengan kekeliruannya sehingga mau bertobat dan bercita-cita jadi wong bener, itulah orang baik. Dan Kang Sarpin telah membuktikan itu. Meski akhirnya, ia harus meninggal sebelum melaksanakan cita-citanya.
--- S E L E S A I ---
Langganan:
Komentar (Atom)
